SPTM : MANUSIA SEMPURNA (artikel ketiga)

dikutip dari blog RODA HUKUM

SATRIO PININGIT SANG MANUSIA SEMPURNA

Oleh: Gusti

MANUSIA SEMPURNA (artikel ketiga)

Negara , maju, makmur , adil, ditentukan oleh manusianya sebagai penghuninya, jika penghuninya bodoh, bebal, masing menggunakan sifat binatang (makan, main, tidur sex, hanya sejengkal dari pusar ke atas dan sejengkal dari pusar kebawah ) mana bisa dunia menjadi surga, yang ada sifat binatang , saling menghancurkan seperti di hutan. Siapa yang kuat kebuasannya dia menjadi raja.

Apa agama kepercayaan yang sudah ribuan tahun dapat mengantarkan manusia menuju pencapaian sempurna ?? berapa banyak orang beragama berkepercayaan telah lulus dalam agama-nya ( sampai ke Illahi) NoLLL …selama ini hanya sampai melihat cahaya sudah hebat. Akan tetapi dirinya masih terjebak terpenjara, oleh akal pikiran, dualitas (baik buruk, senang susah, Tuhan Hamba)

masih mencari kebenaran menurut dualitas, hanya kebenaran nisbi karena benar dan salah menyatu saling tarik menarik, manusia pada umumnya hanya baru sampai sana? Masih nyaman dengan kebenaran ilusi,…padahal apa yang mereka cari, kumpulkan dalam kehidupan ini akan menjadi kenangan belaka. Sayangnya kenangan yang mereka kumpulkan terbanyak adalah kenangan buruk,

gelap, menjadikan mata batin, hati menjadi gelap.

Coba anda pikirkan jika pada saat terjaga seakan akan nyata semuanya, ramai dunia ini dengan seakan akan nyata, tapi pada saat tidur dimana kenyataan tadi hilang sirna, termasuk diri anda sirna, dimana kenyataan tadi. Disinilah ke-fana-an dan ilusi. Apakah kebenaran ilusi yang dicari.???

Manusia awam senang dengan dogma yang di tanamkan pada dirinya. Dan senang dengan perbuatan debat kusir, semua masih dalam perjalanan tidak ada yang benar dan salah yang jelas belum sampai dan belum tahu benar sebanar benarnya itu kaya apa?

Kecuali ada yang telah sampai, maka dialah yang benar sebenarnya ? tapi siapa, kalau dia ada juga di depan anda tidak akan percaya anda, karena anda mengaku benar sendiri padahal anda masih di perjalanan? Repot kalau tertutup hati, kesadaran.

Bagaimana kalau ada sekelompok orang buta mau lari maraton di pimpin wasit buta, pada saat peluit di bunyikan dan mereka berlari, seperti ayam bubar mencari jalan sendiri sendiri, tidak sesuai dengan arah jalan menuju finish, mereka mencari jalan masing–masing, dan merasakan serta mengaku dirinya sudah ada di jalan yang telah ditentukan, padahal jalan pertandingan sepi dari pelari yang mengikuti petunjuk, maklum orang buta. Begitu pula kita dalam perjalanan jika buta pasti mengambil jalan masing masing, dan mengaku benar masing masing. Bagaimana dengan manusia sempurna ? dia tahu jalan matanya melek, cuman kasihan dia sendirian larinya tidak ada saingan, sampai ke finish pun tidak ada yang mengakui, hanya dirinya saja dan tulisan Finish menjadi saksi.

Jaga pikiranmu, karena akan menjadi perkataanmu, jaga perkataanmu karena akan menjadi perbuatanmu, jaga perbuatanmu karena akan menjadi kebiasaanmu, jaga kebiasaanmu karena akan membentuk nasibmu, dan nasibmu berawal dari pikiranmu.

Nah jika semua orang yang beragama, berkepercayaan sudah menguasai dirinya berarti bisa mengusai hidupnya? Apa sudah bisa hal ini saja? Bagaimana akan mengenal tuhan, diri sendiri saja tidak bisa dikenali? Bagaimana bisa mengenal kebenaran hakiki ? dualitas saja masih jadi raja,

Tuhan itu gaib, tidak serupa dengan ciptaan, makanya jangan dilogikakan, biarlah yang gaib itu tidak memiliki nama, malah dikasih nama oleh manusia jadi ribut, biarlah yang gaib itu tidak ada sifat, malah di-sama-kan sifatnya seperti ciptaan manusia jadi ribut-lah, semua di logika-kan, coba logikanya pake saja untuk yang logika yang dapat dicerna di dunia. Gunakan alat lain untuk mencapai yang gaib, jangan memakai logika tidak akan sampai. Pakai-lah yang gaib juga.. apa itu Roh anda?

Cuman sayang anda sendiri tidak kenal diri, tidak kenal roh, tidak kenal kesadaran, banyak tidak kenalnya akan diri bagaimana bisa kenal sama yang maha gaib? Buta buta

Bagaimana anda akan memanggil manusia sempurna dalam kehidupan anda jika anda pada buta tuli, apalagi otak dijejali dengan dalil dogma yang macam macam, dan semua itu sudah membentuk anda jika manusia sempurna ada dan hadir di sekeliling anda, pasti tidak akan percaya dan di percayai, pasti banyak pertanyaan? Apa benar dia? Mana buktinya? Dan buktinya itu harus sesuai dengan yang buta? Seakan akan yang buta yang menentukan dia manusia sempurna atau bukan. Atau guru ditentukan kualitasnya oleh muridnya? Dimana mana juga guru yang menentukan muridnya.

Makanya siap-siap kan diri untuk berubah, ber-bersih diri, dari kebutaan, kebodohan, kotoran, apa saja yang membelenggu diri, agar nanti jika bersih kehadiran sang manusia sempurna dapat merasakan dan meng-iya-kan kehadirannya. Manusia sempurna butuh apa? Manusia selamat dan hancur karena perbuatannya, perbuatannya di-karenakan pikiran, pikiran di-karenakan pendidikannya dan pengalamannya.

Manusia itu di iri dari semua mahluk, karena manusia sanggup mengembangkan dirinya dari begitu kuat melekat sifat binatang, sampai dia bisa membebaskan dirinya dari sifat binatang, terus meningkat sampai dia menjadi manusia, (pikiran perasaan tindakannya manusia), dia terus menguasai dan masuk kedalam dirinya sampai dia dapat mengendalikan dirinya pikirannya, rohnya, nafsunya segalanya yang ada dalam diri, sampai dirinya terang benderang, sanggup melenyapkan semua ilusi, agama ilusi, pikiran ilusi, kepercayaan ilusi,

semua baru sebatas gambaran panca indra sampai menjadi data di pikiran dan itu pun kalau ada neuron (saraf) sampai ke otak, kebenaran sampai data ke otak,kalau otaknya rusak, sarafnya rusak, tidak ada semua kenangan hilang, mana ada orang gila bertuhan, mana ada bayi bertuhan dan beragama, cuman di indonesia saja bayi beragama ( gendeng).

Apakah orang tidur , pingsan, mati suri beragama? Ya tidak. Agama khusus untuk orang waras. Tapi malahan beragama kenapa orang menjadi tidak waras???? Saya tidak tahu itu.

Manusia itu bisa melepaskan dirinya dari semua belenggu, yang manusia buat dan tanamkan sendiri, dia menjadi pemberontak, dia mencari kebebasan, kemerdekaan, dari semua belenggu, tanpa kemauan yang kuat, tanpa kecerdasan yang superjenius mana bisa sampai ketujuan, lihat alam semesta saja segitu besar dan luas apa mampu di tampung oleh otak manusia? Sedangkan manusia sempurna harus sanggup merangkum menciutkan seluruh alam semesta itu, karena dia akan masuk ke dalam alam yang hakiki yang tidak sanggup di jangkau oleh pikiran, kata-kata, ucapan, gambaran visual ? konslet nantinya

Sampailah dia meniadakan semua yang ilusi, seperti hologram, hologramnya mati? Apa yang ada, hening, suwung, blenk, lenyap semua ilusi, yang ada,.. yang abadi?

Dia akan mengembangkan dirinya dan melebarkan dirinya meliputi seluruh alam semesta? Bukannya dia dalam mengembangkan dirinya memegang agama duniawi? Ya enggalah. Agama duniawi itu kecil? Bukan untuk alam semesta, jangankan alam semesta di dunia saja tidak akan bersatu, karena semuanya ngaku yang paling benar, Jikalau semua menyaksikan sebenarnya siapa dia itu ….., dan hanya satu Dia, pasti bersatu. Karena manusia tidak ada yang bersaksi jadi seperti sekarang jadinya.

Kalau memang agama duniawi itu berlaku untuk universal, bawa saja ke alam masing-masing, tanya kenal ga dengan agamanya.? Misalnya ke alam tumbuhan, binatang, makhluk gaib, alam cahaya, terus ke mahluk luar angkasa, kenal tidak?, jawabnya TIDAK kenal. Wong bahasanya juga lain, kecerdasannya lain?

Manusia sempurna itu  sanggup mengembangkan diri dari manusia yang rendah sampai berkembang dengan sempurnanya masuk ke alam yang abadi hakiki, yang tidak dapat di jangkau oleh pikiran,kepercayaan,kesadaran, rupa , suara, agama, dia sudah terbebas. Entah dengan siapa meleburnya dia, alam yang sunyi senyap, tidak ada ilusi, tidak ada siapa siapa, dikatakan juga

salah. Tapi dia mengalami sadar, pencapaiannya, sayang tidak ada pengakuan dan membawa sertifikat dan  tanda tangan cap dari yang ada di alam sunya luri itu. Nah perjalanan semacam ini lah yang susah sekali dan amat terasa berat sekali. Tidak ada yang bisa menerangkan keadaan di alam NOL ini ..juga salah ga bisa di tulis deh…. Semoga saja manusia sempurna ini cepat lahir dan hadir…..

Gimana ya kalau hadir juga manusianya pada buta tuli, mana bisa tahu dan nerima apalagi mau di perintah olehnya……. Satu-satunya jalan, manusia yang memintanya harus melek dulu, sadar dulu, sehat dulu. Biar tidak chaos, baik chaos di dalam diri sendiri atau diluar diri.

Selama manusia buta hati pikiran, manusia sempurna tidak akan dapat menampakan dirinya, walau hadir dan nyata tetap kita tidak tahu. Bagaimana kalau Tuhan berwujud manusia turun ke dunia, ada yang percaya? yaa ga akan ….yang ada dibilang gila .kalau percaya? Benar itu. Benar sekali, karena belum pernah ada yang bertemu dengan Tuhan sebenarnya?

Semua nasib tergantung ditangan manusia-nya, kehidupan hanya pilihan. Manusia sempurna hanya menonton kelakukan orang orang buta tuli.

Sang manusia sempurna sudah menyaksikan dan menyatukan dengan kenyataan ada dan tiada, dia sudah tidak ada lagi perbedaan, dia sudah meng-Esakan dirinya, dia sudah meniadakan dunia alam semesta yang ada sekarang ini, yang hanya bayangan dari diri sang ADA di alam hening sunya luri yang tidak berubah. Maka lenyaplah bagi dirinya semua gambaran ilusi alam semesta dan semua isinya. Entah apa yang ada di dalamnya.

Makanya manusia sempurna muncul kedunia ilusi lagi dengan membawa keadaan yang hakiki, menjadikan dunia dan alam semesta yang kita kenal sebagai alam semesta ilusi hilang di hadapannya. Dia yang ada dan maha hidup abadi, manusia bisa mencapai hal ini, jelas di iri oleh yang lain. Makanya sangatlah kecil dunia alam semesta ilusi bagi dirinya?

Apa yang di ingikan dari alam ilusi,..yang repot manusia buta, alam ilusi dikira nyata, itulah yang harus di lakoni di jalani oleh manusia dalam kehidupan ini agar sampai ke alam yang senyap, hening dari semua ilusi…….

Agamanya apa manusia sempurna? yang jelas islam maksudnya selamat, selamat dari yang ilusi, dimana tinggalnya? yang jelas di jawa, bukan pulau jawa, sifat manusianya….

Saya sendiri tidak akan sanggup mengenalnya karena buta, dan belum mengenalnya. Seandainya kenalan juga entah harus bicara apa benar atau tidaknya, yang ada penolakan daripada percaya, maklum tukang tipu ada dimana mana, pikiran pasti tertipu. Hanya bisa tarik napas saja lah dalam dalam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s